Tuesday, December 31, 2013

Tas kedua dan ketiga


Setelah “sukses” menjahit tas pertama, saya lanjut membuat tas berikutnya. Ya, untuk tas pertama warna pink pakai bros itu saya menganggap itu sudah sukses, karena hasil akhirnya tidak mengecewakan (tasnya bisa saya pakai kemana-mana), dan saya juga mendapat pelajaran berharga dari situ.

Project tas berikutnya, saya memberanikan diri membuat tas dari kain jeans. Kenapa saya sebut “memberanikan diri”? Karena di toko kain kiloan tidak menjual kain jeans, alhasil saya harus membeli kain jeans di toko kain meteran (saya beli di Toko Istana depan pasar Setono Betek Kediri) seharga 85ribu per meter. Lumayan mahal ya.. sedangkan di toko kain kiloan hanya ada kain soft jeans ( jeans yang sangat tipis kiwir-kiwir ) seharga 25ribu per meter.

Guntingan pertama lumayan deg-degan, bagaimana kalau tasnya tidak jadi? Bagaimana kalau gagal? Sayang dong kainnya mahal-mahal.. Tapi, kapan belajarnya kalau takut salah, sudahlah gunting saja. Dan kres..kres..kres.. terpotong sudah kainnya. Sekarang mulai menjahit.

Oya, saya menggunakan busa tipis seharga Rp 6.800 per meter sebagai lapisan tas supaya tasnya agak kaku dan tebal. Ini sebelum saya tahu bahwa ada kain pelapis yang biasa disebut kain keras, atau kain viselin, atau interfacing (saya juga belum paham apa bedanya), yang jelas kain ini bisa disetrika dan menempel di kain utama yang membuat kainnya lebih kaku dan kuat.
Dan inilah hasilnya..






Kali ini saya menggunakan resleting meteran. Tapi kenapa bagian pinggirnya saya jahit merapat begitu? Ini adalah pelajaran kedua yang saya dapat. Bahwa ukuran resleting harus lebih panjang daripada ukuran kainnya. Karena ukuran resletingnya kependekan, saya bingung harus saya apakan (maklum masih sangat pemula sekali). Jadilah pinggirnya saya jahit seperti itu supaya tidak kelihatan bolongnya

Ini juga pertama kalinya saya memakai hiasan dari kain flannel. Modelnya yang simple dulu. Lalu tepinya saya  jahit pakai tusuk feston.



Lalu tas ketiga saya buat untuk Asha. Setelah tas pink pertama yang awalnya saya buat untuk Asha, saya ingin membuatkan dia tas yang ada gambar lucunya. Dan saya putuskan membuat tas slempang dengan gambar kepala kucing dari kain flannel. Ini hasilnya..






Untuk tutup tasnya, sebenarnya saya ingin menggunakan kancing magnet, tapi karena tidak punya, akhirnya saya menggunakan kretekan (apa ya namanya?). Jahitan di luar kepala dan mata kucing bagian luar saya memakai tusuk feston. Sedangkan bagian yang kecil seperti bagian dalam mata dan hidung saya tempel dengan UHU. Untuk mulut dan kumis saya menggunakan tusuk tikam jejak.

Sunday, December 29, 2013

Awal membuat tas


Sebelum membuat dress batik untuk Asha di post sebelumnya, saya juga pernah membuat tas lho.. Tapi jangan dibayangkan tas yang bagus-bagus gitu ya, bukan, masih tas kecil biasa. Awalnya, saya hanya punya dua ukuran tas, yang satu tas besar (yang selalu saya bawa kemana-mana setiap saya keluar), yang kedua tas kecil (yang selalu saya bawa untuk belanja atau sekadar jalan-jalan santai di pagi hari). Nah, tas kecil ini ukurannya sangat kecil, sekitar 15 cm x 11 cm saja, tidak cukup untuk membawa HP saya yang berukuran panjang 16 cm. Akhirnya saya berinisiatif untuk membuat tas sendiri, yang sederhana saja, yang penting bisa untuk membawa HP. Dan, inilah hasilnya..

jahitan bagian saku masih mencong-mencong

karena belum punya resleting atau kancing, akhirnya pakai kancing snap seperti ini..

bagian dalamnya, dan lagi lagi saya tidak mempedulikan warna benang, jadinya nabrak :)


Saku di bagian depan itu tujuan sebenarnya hanya untuk pemanis saja, supaya kelihatan lebih cantik. Tapi hasilnya malah kelihatan sebagai perusak, karena saya menjahitnya mencong-mencong, belum bisa lurus.  Tapi tidak apa-apa, yang penting fungsinya dong, bisa untuk membawa HP.

Beberapa hari setelah itu, waktu saya di rumah mertua, adik ipar saya tidak sengaja melihat foto tas itu di HP saya, dia langsung menyarankan untuk menjahit tas. Dia bercerita bahwa dia pernah membeli sebuah tas kain seharga 130ribu. Waktu saya lihat tas kain itu, yang ada di pikiran saya adalah, kok kayaknya gampang ya? Ya udah, kenapa ga dicoba saja?

Dan malam itu saya tidak bisa tidur. Pikiran saya menerawang kemana-mana membayangkan tas apa yang akan saya buat ketika saya kembali ke Mojokerto nanti. Bagaimana polanya, bagaimana menjahitnya, seolah-olah saya sudah membuat tas kain itu berkali-kali di dalam pikiran saya.
Setelah saya kembali ke Mojokerto, langsung saya eksekusi semua rencana di dalam pikiran saya. Dan inilah hasilnya..




Bisa lihat ada bros bunga di situ? Manis bukan?
Sebenarnya bros itu bukan untuk pemanis. Saya memasang bros di sana untuk menutupi bagian samping tas yang tidak bisa terjahit dengan sempurna. Ini karena resleting yang saya gunakan adalah resleting pendek biasa yang di bagian belakangnya ada besinya.
Jadi pada bagian yang belakang (yang ada besinya itu), sulit untuk menjahit bagian pinggir tasnya. Saya jadi teringat perkataan penjaga toko Nechi di Kediri sewaktu saya membeli resleting untuk tas, dia menyarankan untuk menggunakan resleting meteran. Waktu itu saya bingung, kenapa mesti resleting meteran, toh kan sama saja. Ternyata ini toh alasannya. Kalau pakai resleting meteran, resletingnya bisa dibuka atau ditutup semau kita, jadi memudahkan menjahit bagian pinggirannya.
Ini pelajaran yang pertama. *manggut-manggut
Tapi so far, hasilnya lumayan oke. Saya memakai tas pink ini kalau pergi berbelanja atau kemana-mana yang dekat rumah, tentu saja kali ini saya bisa sambil membawa HP.

Monday, December 16, 2013

Mulai menjahit


Karena saya tidak punya keahlian menjahit SAMA SEKALI, akhirnya untuk pertama-tama saya berlatih menjahit lurus dulu. Berbekal kain perca seadanya, inilah hasil latihan menjahit saya di hari pertama. Sangat luar biasa bukan? Maksudnya, luar biasa amburadul :)

Jahitannya mencong kemana-mana *malu


Selain latihan menjahit lurus, tak lupa saya juga mencari-cari info via mbah google. Setelah baca-baca banyak blog tentang tuntunan belajar menjahit bagi pemula, saya mengambil satu kesimpulan bahwa, untuk penjahit pemula, cobalah menjahit sesuatu yang mudah terlebih dahulu. Contohnya menjahit sarung bantal.
Nah, pas banget di rumah ada tiga buah bantal yang belum punya sarung sendiri. Oke, sudah diputuskan project pertama adalah, MEMBUAT SARUNG BANTAL.

Di blog itu juga ditulis bahwa untuk pemula sebaiknya menggunakan kain kiloan saja supaya lebih murah. Dan setelah tanya-tanya, ketemulah satu toko kain kiloan di kota Kediri yang lumayan ramai. Namanya Toko Subur (itu yang tertulis di struk belanjanya, tapi di depan toko sama sekali tidak ada tulisan nama tokonya), lokasinya di Jalan KH. Agus Salim No.74, perempatan Muning ke arah barat sekitar 400 meter di kanan jalan. Tepat di depan sebuah SPA (tapi saya lupa namanya). Setelah memilih bahan kain untuk sarung bantal, mulailah saya menjahit dengan panduan dari internet. Dan, inilah hasilnya…

lumayan...


Walaupun sempat mengalami dua kali revisi alias diperbaiki karena ukurannya kebesaran, Alhamdulillah akhirnya jadi juga sarung bantal dengan ukuran yang pas. Dan ya, saya belum memperhatikan penggunaan warna benang dengan baik. Untuk kain yang dominan putih itu, saya malah menggunakan benang berwarna hitam (karena masih malas mengganti benang). Sarung bantalnya bisa jadi saja saya sudah bersyukur, gak papa deh warna benangnya nabrak

Oya, sebelum menjahit sarung bantal ini, saya sudah sempat menjahit sebuah kain yang dulu bekas kain korden, dijahit memanjang ke bawah membentuk sebuah rok. Saya suruh Asha memakainya, lalu saya pakaikan cardigan pink yang sudah ada, dan jadilah…
HANBOK JADI-JADIAN… *tepok jidat



Next project, saya agak gelap mata. Setelah sukses dengan sarung bantal, saya berniat langsung melompat dengan membuat baju Asha. Rencana awal sih saya ingin membuat long dress dari bahan kain batik dengan bentuk seperti baju-baju princess gitu, yang bagian roknya agak mengembang.
Dan setelah melalui proses pembuatan pola yang asal-asalan (karena saya memang belum memperlajari cara membuat pola yang benar), dan sempat juga salah jahit sampai kebalik-balik, akhirnya jadi juga bajunya…

jahitnya kebalik hahahaha..

ini gambar setelah jadi..



Bisa dilihat kan, modelnya sangat jauh dari yang saya inginkan. Bagian lehernya sangat sempit, bagian ketiak juga pas-pasan alias kurang lebar. Saya pun agak susah payah waktu memakaikan baju itu ke tubuh Asha, kasihan dia.. Maafkan ibumu ini ya Nak..

Saturday, December 14, 2013

Awal Mula


Dulu saya sempat punya keinginan untuk belajar menjahit. Waktu itu, saya sedang awal-awalnya jualan jilbab dan busana muslim via online. Saat itulah terpikir, kenapa tidak belajar jahit saja? Kan bias produksi sendiri jilbab dan bajunya? Saya juga bias desain sendiri model baju yang saya inginkan. Tapi kemudian, keinginan itu pupus seiring waktu.

Dan baru-baru ini, keinginan untuk belajar jahit itupun muncul lagi ketika saya sedang gemar-gemarnya nonton serial Korea. Membayangkan betapa lucunya kalau Asha memakai hanbok (pakaian tradisional Korea), memunculkan keinginan untuk menjahit sendiri hanbok untuk Asha.

Untuk ikut kursus menjahit menurut saya tidak mungkin. Karena saya hanya berdua dengan Asha di rumah, jadi kalau mau ikut kursus, mau tidak mau, Asha juga harus ikut ke tempat kursus. Nah, bias dibayangkan apa saja yang ada di tempat kursus jahit? Yak, pastinya aka nada banyak jarum jahit, jarum pentul, gunting dan juga silet bertebaran dimana-mana. Bagaimana bisa saya belajar menjahit dengan tenang?

Akhirnya saya putuskan untuk belajar secara otodidak saja. Kebetulan, di rumah mertua saya ada sebuah mesin jahit tua yang masih bagus. Mesin jahit kayuh Butterfly model JA1-1 yang hanya mempunyai satu fungsi jahitan, yaitu jahit lurus. Mesin jahit ini dibeli tanggal 14 Agustus 1996 dengan harga Rp 190.000. walaupun sudah berumur lebih dari 17 tahun, tapi mesinnya masih sangat layak dipakai, masih oke. Dan karena di rumah mertua mesin jahitnya jarang dipakai, jadilah saya boyong mesinnya ke Mojokerto, domisili saya sekarang.



Dan mulailah saya menjahit..