Saturday, December 14, 2013
Awal Mula
Dulu saya sempat punya keinginan untuk belajar menjahit. Waktu itu, saya sedang awal-awalnya jualan jilbab dan busana muslim via online. Saat itulah terpikir, kenapa tidak belajar jahit saja? Kan bias produksi sendiri jilbab dan bajunya? Saya juga bias desain sendiri model baju yang saya inginkan. Tapi kemudian, keinginan itu pupus seiring waktu.
Dan baru-baru ini, keinginan untuk belajar jahit itupun muncul lagi ketika saya sedang gemar-gemarnya nonton serial Korea. Membayangkan betapa lucunya kalau Asha memakai hanbok (pakaian tradisional Korea), memunculkan keinginan untuk menjahit sendiri hanbok untuk Asha.
Untuk ikut kursus menjahit menurut saya tidak mungkin. Karena saya hanya berdua dengan Asha di rumah, jadi kalau mau ikut kursus, mau tidak mau, Asha juga harus ikut ke tempat kursus. Nah, bias dibayangkan apa saja yang ada di tempat kursus jahit? Yak, pastinya aka nada banyak jarum jahit, jarum pentul, gunting dan juga silet bertebaran dimana-mana. Bagaimana bisa saya belajar menjahit dengan tenang?
Akhirnya saya putuskan untuk belajar secara otodidak saja. Kebetulan, di rumah mertua saya ada sebuah mesin jahit tua yang masih bagus. Mesin jahit kayuh Butterfly model JA1-1 yang hanya mempunyai satu fungsi jahitan, yaitu jahit lurus. Mesin jahit ini dibeli tanggal 14 Agustus 1996 dengan harga Rp 190.000. walaupun sudah berumur lebih dari 17 tahun, tapi mesinnya masih sangat layak dipakai, masih oke. Dan karena di rumah mertua mesin jahitnya jarang dipakai, jadilah saya boyong mesinnya ke Mojokerto, domisili saya sekarang.
Dan mulailah saya menjahit..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment