Sunday, December 29, 2013

Awal membuat tas


Sebelum membuat dress batik untuk Asha di post sebelumnya, saya juga pernah membuat tas lho.. Tapi jangan dibayangkan tas yang bagus-bagus gitu ya, bukan, masih tas kecil biasa. Awalnya, saya hanya punya dua ukuran tas, yang satu tas besar (yang selalu saya bawa kemana-mana setiap saya keluar), yang kedua tas kecil (yang selalu saya bawa untuk belanja atau sekadar jalan-jalan santai di pagi hari). Nah, tas kecil ini ukurannya sangat kecil, sekitar 15 cm x 11 cm saja, tidak cukup untuk membawa HP saya yang berukuran panjang 16 cm. Akhirnya saya berinisiatif untuk membuat tas sendiri, yang sederhana saja, yang penting bisa untuk membawa HP. Dan, inilah hasilnya..

jahitan bagian saku masih mencong-mencong

karena belum punya resleting atau kancing, akhirnya pakai kancing snap seperti ini..

bagian dalamnya, dan lagi lagi saya tidak mempedulikan warna benang, jadinya nabrak :)


Saku di bagian depan itu tujuan sebenarnya hanya untuk pemanis saja, supaya kelihatan lebih cantik. Tapi hasilnya malah kelihatan sebagai perusak, karena saya menjahitnya mencong-mencong, belum bisa lurus.  Tapi tidak apa-apa, yang penting fungsinya dong, bisa untuk membawa HP.

Beberapa hari setelah itu, waktu saya di rumah mertua, adik ipar saya tidak sengaja melihat foto tas itu di HP saya, dia langsung menyarankan untuk menjahit tas. Dia bercerita bahwa dia pernah membeli sebuah tas kain seharga 130ribu. Waktu saya lihat tas kain itu, yang ada di pikiran saya adalah, kok kayaknya gampang ya? Ya udah, kenapa ga dicoba saja?

Dan malam itu saya tidak bisa tidur. Pikiran saya menerawang kemana-mana membayangkan tas apa yang akan saya buat ketika saya kembali ke Mojokerto nanti. Bagaimana polanya, bagaimana menjahitnya, seolah-olah saya sudah membuat tas kain itu berkali-kali di dalam pikiran saya.
Setelah saya kembali ke Mojokerto, langsung saya eksekusi semua rencana di dalam pikiran saya. Dan inilah hasilnya..




Bisa lihat ada bros bunga di situ? Manis bukan?
Sebenarnya bros itu bukan untuk pemanis. Saya memasang bros di sana untuk menutupi bagian samping tas yang tidak bisa terjahit dengan sempurna. Ini karena resleting yang saya gunakan adalah resleting pendek biasa yang di bagian belakangnya ada besinya.
Jadi pada bagian yang belakang (yang ada besinya itu), sulit untuk menjahit bagian pinggir tasnya. Saya jadi teringat perkataan penjaga toko Nechi di Kediri sewaktu saya membeli resleting untuk tas, dia menyarankan untuk menggunakan resleting meteran. Waktu itu saya bingung, kenapa mesti resleting meteran, toh kan sama saja. Ternyata ini toh alasannya. Kalau pakai resleting meteran, resletingnya bisa dibuka atau ditutup semau kita, jadi memudahkan menjahit bagian pinggirannya.
Ini pelajaran yang pertama. *manggut-manggut
Tapi so far, hasilnya lumayan oke. Saya memakai tas pink ini kalau pergi berbelanja atau kemana-mana yang dekat rumah, tentu saja kali ini saya bisa sambil membawa HP.

2 comments: